Dengan satu helaan napas panjang, Tasha akhirnya berdiri, membereskan barangnya dan menyampirkan tas di bahu. Ia melangkah ke bar, menyapa satu-satu para staf yang masih lembur membereskan pesanan dan laporan. “Makasih semua. Aku pulang dulu ya. Besok aku minta report, kirim ke email.” Setelah mengucapkan salam malam, ia melangkah keluar. Udara dingin menyambutnya, dan mobil hitam panjang yang biasa menjemputnya sudah terparkir di depan. Sopir membuka pintu belakang, dan Tasha masuk sambil masih menatap layar ponselnya. Belum juga mobil berjalan jauh, tiba-tiba Tasha bersuara. “Berhenti di minimarket ya. Aku pengen makan ramen. Yang cup gitu.” Amita langsung memberi aba-aba pada sopir. “Baik, Mbak.” Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di depan minimarket 24 jam yang cukup sep

