Tasha tertawa geli sebelum akhirnya menarik napas dalam, menatap sahabat-sahabatnya. “Gila, lo berdua…” gumamnya, matanya mulai berkaca-kaca. “Ngapain sih tiba-tiba nyusul ke sini?” Dita menyodorkan teh hangat padanya, lalu duduk di kursi makan. “Kejuutan dong. Gue tau lo pasti sedih karena Varrel gak ada.” “Lah, emangnya lo tahu dia gak di rumah?” Rania dan Dita saling melirik tatapan penuh kode khas persahabatan tingkat tinggi lalu akhirnya Rania yang menjawab, “Kita liat dia tadi, Sha…” “Liat di mana?” Dita menghela napas. “Di restoran rooftop. Sama Gisellia. Makan berdua. Deket banget duduknya. Gisellia megang tangan Varrel.” Seketika itu juga, ruangan yang tadi hangat berubah dingin buat Tasha. Tapi bukan karena udara. Karena kenyataan. Dan sejujurnya… dia sudah menduganya. “Y

