Langkahnya mengarah ke dalam, menyusuri lorong yang tak pernah terasa sepi seperti malam itu. Sesekali matanya melirik ke sekeliling. Dinding yang dingin. Pencahayaan hangat yang tak cukup menenangkan batinnya. Pelayan yang hendak menyusulnya ia hentikan dengan anggukan halus. “Biar aku sendiri.” Tangannya membuka pintu kamar yang hampir tidak pernah dihuni Varrel. Kamar itu masih rapi, terlalu rapi, nyaris steril dari jejak kehadiran. Seolah-olah Varrel tak pernah benar-benar tinggal di situ. Padahal di kamar itu masih tergantung satu jas miliknya, dan di rak samping tempat tidur ada buku yang belum selesai dibaca. Tasha berjalan ke jendela, menatap keluar. Langit malam berkilau seperti lautan bintang yang tahu semua cerita, tetapi tak bisa berkata-kata. Jakarta malam itu begitu sunyi,

