Tasha mengangguk singkat, duduk di meja makan marmer yang dingin dan bersih. "Bisa tolong siapkan sarapan ringan? Roti, telur rebus, dan… susunya jangan lupa ya, s**u kehamilan,” katanya. “Tentu, Nona. Akan saya siapkan sekarang juga.” Pelayan itu tersenyum tulus. “Apa Nona akan ke rumah sakit lagi hari ini?” Tasha menggeleng pelan, lalu menarik napas panjang. “Nggak. Hari ini aku mau ketemu Eyang Tirwanegara.” **** Rumah keluarga besar Chandrawinata itu berdiri tegak layaknya istana. Dikelilingi taman luas dan pilar-pilar marmer yang menjulang megah, rumah itu seakan menjadi simbol kejayaan yang tak tergoyahkan. Namun tak seorang pun tahu bahwa di balik kemegahan itu, di salah satu ruangan yang sunyi dan berselimut cahaya kuning temaram, tengah pecah sebuah gelombang emosi yang tak b

