“Sudah diputuskan. Perusahaan diberikan ke anak pertama. Pak Adit dan keluarganya akan dikirim ke cabang luar negeri. Tidak akan ada konflik terbuka. Semuanya selesai.” Elvie menatap layar itu lama, tanpa ekspresi. d**a yang tadinya sesak pun kini hanya menyisakan kehampaan. Perusahaan yang dulu diperebutkan dengan penuh ambisi dan rasa bersaing kini telah menemukan tuannya. Tapi tidak ada sorak. Tidak ada perayaan. Tidak ada rasa puas yang datang seperti dalam mimpi-mimpinya dulu. Justru sekarang... sepi. Dan ia yakin, Yovindra pun merasakannya. Mungkin itu sebabnya pria itu memilih pergi diam-diam tadi pagi, menengok makam Vano dengan mata basah. Mereka sudah kehilangan satu anak... dan hampir kehilangan yang satunya lagi. Apa artinya semua ini, jika kemenangan hanya menyisakan kekoson

