**** Tasha baru pulang dari apartemen Rania saat sore menjelang. Langit sudah mulai menguning kejinggaan, bayang-bayang pepohonan membentang panjang di dinding basement apartemen ketika Rania mengantar Tasha hingga ke tempat mobilnya terparkir. Udara lembap bekas hujan siang tadi masih menggantung, dan aroma tanah basah samar menyusup di sela perpisahan mereka. Tasha berdiri sejenak sebelum masuk ke mobil, dan seperti membaca pikirannya, Rania langsung memeluknya erat. “Lo kuat, Ta. Gue tahu lo bisa lewatin semua ini,” bisik Rania lembut, menepuk-nepuk punggung sahabatnya. Tasha mengangguk dalam pelukan itu. “Makasih, Ran… lo selalu jadi orang pertama yang bikin gue ngerasa gak sendirian.” Setelah pelukan mereka terlepas, Tasha masuk ke mobil. Sopir langsung menyalakan mesin, dan mobi

