Pengampunan-3

615 Words

Ibunya hendak menyanggah, mencoba menyuapkan satu sendok lagi, tapi Tasha memalingkan wajah dan berkata tanpa nada, “Aku cuma butuh waktu. Itu saja.” Kata-kata itu sederhana, tapi cukup untuk membuat ibunya menahan napas dan akhirnya mengangguk pelan. Mereka tidak ingin menambah luka. Tidak ingin memaksa putri mereka untuk terlihat kuat saat sebenarnya hancur di dalam. “Yasudah tidur lagi ya, tubuh kamu belum pulih dengan benar.” “Ibu dan Ayah kalau mau pulang gak papa.” “Enggak,” ucap ayahnya. “Kami disini, disisi Tasha.” Keduanya lalu memilih tinggal. Menemani Tasha dalam sunyinya yang basah, dalam waktu yang retak dan lamban. Tidak ada yang memaksa Tasha tersenyum. Tidak ada yang bertanya kapan dia akan bangkit. Mereka hanya di sana. Duduk. Mengawal. Menjadi jangkar bagi jiwanya ya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD