“Iya, Ma. Sorry. Lagi sibuk banget hari ini,” ujarnya, duduk di tepi ranjang sambil menatap ke luar jendela kamar hotel yang menghadap Sungai Han. “Apa kamu baik-baik saja? Gimana kepalamu? Sakitnya kambuh nggak?” Varrel tersenyum kecil. “Sudah jauh lebih baik, Ma. Aku udah nggak pusing lagi…Cuma tetep ngblank aja gak inget apa-apa.” Ia menunduk sebentar, lalu menambahkan, “Tapi Ma, aku nggak balik ke Jakarta dalam waktu dekat. Aku bakal lama di Korea.” Hening sesaat dari seberang. “Berapa lama?” “Mungkin… satu bulan. Atau dua.” “Varrel,” suara Mamanya kini terdengar lebih tegas, namun tetap lembut. “Kamu baru sembuh dari cedera kepala. Jangan ambil keputusan sendiri begitu saja. Apa kamu nggak bilang dulu ke Papa?” “Ma… dengar aku dulu,” potong Varrel. “Aku kesini bukan cuma buat he

