Candu Tidak Terbendung-4

554 Words

“Tenang,” ucap Bram sambil menepuk tangannya sebelum turun dari mobil. “They’ll love you.” Belum sempat Dita menjawab, dari beranda rumah yang terbuka, muncullah Ayuning, ibunda Bram, mengenakan kebaya semi-modern berwarna hijau zaitun, lengkap dengan kain batik lereng yang anggun. Di sampingnya berdiri seorang pria berwibawa dengan blangkon dan beskap kasual, Abimana, ayah Bram. Senyuman mereka hangat, tapi tetap membawa aura kewibawaan yang tidak main-main. “Astaga Ditaaaa! Aduh, yo Gusti, cantik tenan anak mantu ku iki!” (Astaga Dita! Aduh, cantik sekali anak mantuku ini!) Ayuning langsung memeluk Dita. “Selamat datang, Nak.” “Terima kasih, Bapak,” jawab Dita. Ayuning lalu menggandeng tangan Dita, tidak melepaskan. “Masuk, masuk! Oalah, Ibu wes ndongakno iki berkah. Lha wong Ibu si

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD