Tak ada lagi kata-kata setelah itu. Hanya suara air yang bergerak pelan, dan bisikan napas yang saling menyentuh di ruang kecil bernama keintiman. Tidak ada pagi panas sesuai rencana. Tapi pagi itu tetap hangat. Sangat hangat. Sebab meski Dita tak mengucapkan apa yang membuat hatinya bergolak, Bram seperti tahu. Dan ia hadir... tidak untuk bertanya, hanya untuk diam bersama dan memeluk lebih erat. **** Karena makan malam kemarin gagal, Dita memutuskan mengganti jadwal makan siang bersama Tasha hari ini. Begitu bel apartemen berbunyi, Dita langsung membukakan pintu. Tasha sudah berdiri di sana dengan kacamata hitam besar dan totebag selempang. Begitu masuk, tanpa basa-basi, dia langsung berkata, “Gue kasih lo waktu sepuluh menit buat buka mulut sebelum gue ngegas. Kenapa muka lo ditekuk

