Dita menunduk, jari-jarinya menekan-nekan sendok. “Gue kenal lo dari sebelum lo ngerti cara pakai eyeliner, Dit. Tapi sekarang? Lo kayak cewek yang kehilangan arah. Dan parahnya, lo tahu itu... tapi lo diem.” “Gue...” Dita ingin menjawab, tapi tak ada kata yang bisa meredakan Tasha saat marah. “Lo tuh kayak yang berdiri di dua perahu. Nunggu salah satunya tenggelam biar lo tahu harus ke mana. Tapi gak lo sadarin, lo yang bikin dua-duanya bocor sendiri.” Makanan datang. Wangi lemon butter memenuhi meja, menyusup di antara ketegangan yang menumpuk. Dita mencoba mencicipi salmonnya, mengunyah pelan, lalu senyum kecil muncul di wajahnya. “Enak banget. Aku harus coba masak ini buat Mas Bram,” ucapnya dengan mata yang sedikit berbinar. Tasha mendongak. Senyum mengejek menggantung di sudut

