Namun siapa sangka, sore itu berubah menjadi senja yang asing bagi Bram. Dita, yang biasanya menempel manja seperti embun di kelopak pagi, hari ini nyaris tak terlihat wujudnya di sampingnya. Sejak makan siang usai, perempuan itu lebih memilih berkeliling rumah bersama Jayeng dan Ayuning, membereskan dapur, memilah stoples, bahkan mencatat daftar kebutuhan rumah tangga seperti sedang bersiap menghadapi acara besar. Bram hanya mengamati dari kejauhan, dengan senyum tipis yang semakin memudar tiap kali Dita berlalu begitu saja tanpa menoleh. Sehabis matahari tenggelam, rumah kian ramai oleh suara gelak dan langkah kaki keluarga yang bersiap kembali ke Yogyakarta keesokan pagi. Sasongko dan Abimana masuk lebih dulu ke kamar tamu, menutup malam mereka lebih awal dengan alasan perjalanan panja

