Dita terkekeh kecil, menutupi wajahnya dengan tangan. “Kok Mbok bisa tahu sih…” Mbok Rasmi duduk perlahan di kursi seberang, menepuk tangan Dita dengan penuh kasih. “Mbok kiyo sekti, Mbak… hehehe. Tapi saiki, mbok rumangsa Mas Bram niku beneran tresna tenan. Katon saking mripate. Saking carane ndeleng panjenengan. Dadi... aja mikir sing aneh-aneh, yo?” (Mbok ini sakti, Mbak… hehehe. Tapi sekarang, saya rasa Mas Bram itu beneran cinta tulus. Terlihat dari matanya. Dari cara dia melihat panjenengan. Jadi… jangan berpikiran yang aneh-aneh, ya?) Dita mengangguk pelan, matanya menghangat. “Iya, Mbok… aku tahu. Dia sayang sekali sama aku.” Dan untuk pertama kalinya hari itu, sendok nasi akhirnya menyentuh bibir Dita, membawa sedikit rasa tenang yang perlahan meluruhkan sisa gemuruh di dadany

