Prabu tidak menjawab. Ia menatap sekeliling ruangan sebentar, lalu matanya kembali pada anak muda di depannya, mantan bawahannya. Mereka pun mulai membahas permasalahan melupakan hal yang terjadi sebelumnya. Sebenarnya masih canggung bagi Prabu, tapi dia harus segera datang kesini. Dan karena berfikir Dita dengan Rania berteman, jadi mereka masuk saja setelah diizinkan. Sementara itu di dapur, Dita baru melepaskan tangan Rania ketika mereka tiba di meja makan kecil yang menghadap taman belakang. Ia menarik kursi untuk sahabatnya, lalu membuka salah satu kotak penyimpanan. “Ini harusnya dibawa ke cafe. Tapi lo harus lihat,” kata Dita cepat, sambil mengeluarkan sederet bahan makanan impor dari tas belanja khusus pendingin. “Gue bawa salmon dari Granville, raclette cheese, dan ini, nih... t

