Cinta pertamanya... berakhir di tanah asing. Dalam sepi. Dalam duka yang tidak sempat ia ucapkan selamat tinggal. Dan kini hanya doa yang bisa ia bisikkan dengan air mata yang tak kunjung kering, dan d**a yang tak tahu harus bagaimana memaafkan dirinya sendiri. **** Dita menangis sampai kelelahan. Tubuhnya menggigil saat dibawa pulang dari makam Kevin, dan begitu sampai di apartemen yang telah disiapkan Bram untuknya, ia tak banyak berkata. Hanya mengangguk kecil ketika Mbok Rasti membukakan pintu dan menunjukkan kamar yang akan dia gunakan. Apartemen itu luas, bersih, dan hangat. Dua kamar, satu untuk Dita, satu lagi untuk Mbok Rasti. Di dapur sudah tertata beberapa makanan siap saji dan bahan mentah, dan di ruang tamu terdapat bantal-bantal nyaman serta aroma lilin lavender yang samar,

