Bram tersenyum tipis, menunduk. “Aku usahakan, Eyang. Sebisa mungkin.” Eyang mengangguk, lalu melambaikan tangan pada Abimana. “Wis, sing lanang kuwi digawa nang paviliun. Omah mburi, ben padha duwe wektu dhewe. Aku ngerti carane tresno iso bali, yen diwenehi ruang.” (Sudah, bawa dia ke paviliun. Rumah belakang, supaya mereka punya waktu sendiri. Aku tahu cinta bisa kembali, kalau diberi ruang.) Tanpa banyak kata, Ayuning mengambil alih kursi roda Bram dari tangan suaminya, sementara Dita berjalan di sisi lain. Mereka melangkah menyusuri jalan setapak dari batu alam yang membelah taman kecil menuju paviliun yang terletak sekitar 30 meter di belakang rumah utama. Di kiri-kanan, bunga bougenville dan anggrek bergelantungan dari teralis kayu. Angin laut membawa aroma asin dan harum bunga tr

