Prabu tertawa kecil, lalu mencium pelipis Rania dengan lembut. “Mas janji gak bakal macam-macam.” “Yakin?” Rania mengangkat alis. “Yakin, Sayang” katanya sambil terkekeh. Rania pun kembali ke kamar hotel yang sunyi. Begitu masuk, Rania langsung menanggalkan heels-nya dan merebahkan diri di sofa, membuka jendela ke balkon kecil. Dari sana, ia masih bisa melihat sisa pesta—cahaya warna-warni, dentuman musik, siluet tubuh pria-pria yang bersorak sambil menenggak minuman. Matanya otomatis mencari Prabu, dan ketika menemukannya… “Gila…” gumamnya lirih. Prabu sedang berdiri dekat bar, kemeja putihnya digulung di lengan, satu tangan menyelip di saku celana, dan satu lagi memegang gelas kaca. Wajahnya setengah tertawa, setengah misterius, dengan garis rahang tajamnya tertangkap sempurna oleh

