"Anjir, ini kalau jatuh ke lantai, gue jual ginjal pun gak cukup buat ganti," bisik Dita sambil menahan napas melihat kalung bertabur safir biru. Rania tertawa kecil, memainkan salah satu cincin di jarinya. "Udah, lo tinggal nikah aja sama orang kaya, Dit. Biar tiap hari mainannya ginian.” “Gak ya, gue setia sama laki gue.” “Halah, sama itu tuh…. Pak Bramasta, dia katanya anak yang punya Yayasan sekolah Katolik yang di Kebayoran Lama itu yang terkenal loh.” “Yang bener?” tanya Dita kaget. “Iya, mau gak?” “Gak ya anjir, gue nanya doang. Pantesan aja tampilannya kek bukan dosen biasa, bermerk semua.” Mereka berdua sibuk mengomentari setiap barang mewah itu sambil sesekali mencoba satu-dua perhiasan. Tapi suasana santai itu mendadak terusik saat dari luar ruang VIP terdengar suara ribu

