Dhika mengangkat bahu dengan ekspresi acuh. "Ya udah. Kirim aja, sekalian gue jadi buaya Paris." Rania nyaris melempar kaleng sodanya ke kepala adiknya. Tapi kemudian pembicaraan mereka mengalir ke hal lain. Tentang keluarga. Tentang masa lalu. Tentang Kakek Lucien di Paris. "Lo masih sering dihubungin, gak, sama Kakek?" tanya Rania, menatap horison. Dhika mengangguk malas. "Masih. Kadang chat. Kadang nelpon. Tapi sering gue cuekin. Males." Seketika, ide nakal muncul di kepala Rania. Dia menoleh, matanya bersinar. "Eh, bagi nomor Kakek dong. Gue ada perlu. Rahasia ya, jangan bilang-bilang ke Papa." Dhika mengerutkan kening. "Ngapain, Kak?" "Udah, kasih aja. Pokoknya, penting." Dengan mendengus malas, Dhika akhirnya mengirimkan kontak Kakek Lucien ke ponsel Rania. Rania tersenyum p

