Perlahan, Tyo mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam saku batiknya. Ia meletakkannya di meja kecil di samping ranjang, lalu menatap Prabu dalam-dalam. “Kalau kamu ingin menyusulnya ke Paris... di situ alamatnya. Tapi itu keputusanmu. Saya tidak menyuruhmu pergi, hanya memberi jalan kalau kamu merasa harus.” Prabu menatap kartu nama itu, tapi tidak menyentuhnya. Ia menoleh kembali pada mertuanya, suaranya lemah namun mantap. “Saya... belum akan menyusul, Pak. Saya akan menunggu dia pulang. Sebanyak apa pun waktu yang dia butuhkan... akan saya beri. Saya tahu, kalau saya ke sana dalam kondisi seperti ini... bukan pengobat luka, malah pembuka luka lama.” Tyo tersenyum tipis, lalu berdiri. Ia menepuk pelan bahu menantunya. “Rania bisa dendam. Bisa menjauh. Tapi saya tahu satu hal... perem

