Lestari sempat ragu, namun Rania berhasil membujuknya hingga mereka naik ke kamar dan Rania membaringkan sang ibu perlahan. Mata Lestari terpejam dengan gelisah, dan Rania duduk di sisi ranjang cukup lama. Pandangannya menyapu seluruh kamar yang dulu jadi tempatnya mencari pelukan setiap kali terluka. Tapi kini... ibunya yang perlu dijaga. Melihat wajah pucat itu, wajah yang biasanya menjadi tumpuan keteguhan keluarga membuat Rania mengepalkan tangan. Dadanya bergetar, bukan hanya karena takut... tapi marah. Sangat marah. Kepada Dhika. Kepada keegoisan remaja yang kini telah menimbulkan badai. Setelah memastikan Mamanya terlelap, Rania perlahan keluar dari kamar, menutup pintu dengan hati-hati. Ia berdiri sejenak di koridor lantai atas, menarik napas panjang untuk meredam amarah dan kek

