Semuanya terlalu padat, terlalu menyesakkan. Sore itu, ia duduk di pinggir ranjang Dhika, mengawasinya mengepak barang-barang dalam diam. Tak ada suara. Hanya satu ruangan penuh kepenatan. Keduanya diam seperti dua orang asing yang saling mengerti, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. “Masa depan lo bakalan ditulis sama Montregard, De. Lo harus tahan di sana, apalagi sama sepupu-sepupu yang gak suka kita." Suara Rania pelan namun tegas. Dhika duduk di sisi ranjang dengan tubuh agak membungkuk, tangan meremas ritsleting koper yang sudah tertutup rapat. Ia mengangguk kecil, matanya menatap lantai kayu sambil menggumam, "Tau kok, Kak." Tak ada pembelaan, tak ada pembangkangan. Hanya anggukan seorang anak laki-laki yang sedang dipaksa dewasa dalam waktu yang terlalu cepat. Rania mendekat

