Nafsu yang Merindu-4

517 Words

“Hey, hey, hey…” Prabu langsung memeluk Rania dari samping, meski tangannya masih basah oleh muntah. “Gak apa-apa. Ini bukan jijik, ini tanda kamu lagi bawa nyawa kecil. Jangan minta maaf, Sayang. Mas gak jijik sama kamu. Mas cuma khawatir.” Rania menangis dalam pelukannya, dan Prabu tetap tenang. Ia mencium pelipis istrinya dengan lembut, lalu mengusap air matanya. “Sekarang kamu diam ya. Duduk di sofa, Mas gendong.” Dan benar saja, Prabu mengangkat tubuh mungil istrinya dengan lembut, membawa ke sofa tanpa peduli tangan dan bajunya kotor. Ia membaringkan Rania pelan, lalu melepaskan gaun yang terkena muntahan, menggantinya dengan piyama bersih. Rania diam saja, hanya menatap wajah Prabu yang sabar dan penuh cinta itu. “Mas bakal beresin tempat tidur, kamu tenang aja. Gak usah mikir a

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD