(Bukan) Pernikahan Sandiwara-2

730 Words

“Aduh... kepala aku sakit. Terus laper. Laper banget,” keluhnya dengan nada manja yang tidak bisa disembunyikan. “Tetep harus sandiwara kan? Ayok jadi pasangan romantic.” Bram mengerjap, nyaris tertawa karena kontras sikap barusan. Tapi ia tetap memeluk Dita erat, mencium puncak kepalanya pelan. “Oke, mari kita makan dulu. Terus ganti baju.” “Mau istirahat sebentar, Mas.” “Iya, mau ditemani?” Dita mengangguk cepat, seperti anak kecil yang senang mendengar kalimat ‘boleh jajan’. Tangannya tak lepas dari lengan Bram saat mereka berjalan perlahan menembus kerumunan tamu, sambil menyapa sekilas para kerabat yang tampak sibuk menikmati jamuan ala bangsawan Jawa lengkap dengan wedang jahe hangat, jenang sumsum, dan gudeg khas keluarga besar Eyang Bromo yang dimasak langsung di pawon. Dan se

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD