Asisten itu mengangguk dan keluar, meninggalkan Rania bersama suasana sunyi di ruangan tersebut. Rania melirik ke arah Daisy yang sudah terlelap dengan tangan mungilnya memeluk bantal sofa. Napasnya pelan, wajahnya damai. Dan di tengah kesenyapan itu, Rania pun mulai memakan camilan yang disuguhkan—cookie hangat yang renyah, ditemani seteguk air mineral. Namun saat ia berdiri dan melihat remahan cookie berserakan di lantai, refleks ia melangkah ke dekat pintu untuk mengambil sapu kecil yang tersandar di sana. Tapi langkahnya terhenti. Bukan karena sapunya jatuh. Tapi karena ia mendengar suara dari luar pintu—percakapan antara asisten Prabu dan seseorang, yang dipanggil sang asisten dengan sebutan “Pak Zurech.” “Benar, Pak, Mbak Rania yang sering bersama Pak Prabu,” kata suara sang asis

