Pagi Yang Dinanti

1520 Words

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu oleh Aleeya datang juga. Hari sidang skripsi. Hari yang sejak lama hanya jadi target samar dalam kalender dindingnya, kini menjelma nyata—dan mendebarkan. Rumah sudah ramai sejak azan Subuh berkumandang. Tapi bukan karena kegaduhan, melainkan karena semangat yang menyebar ke seluruh sudut rumah. Papi Dimas bahkan sudah berdiri di depan pintu kamar Aleeya sejak pukul enam pagi, lengkap dengan kemeja dan sepatu yang sudah mengkilap. “Pagi ini Papi cuti dari status direktur. Status Papi sekarang, sopir pribadi mahasiswi tingkat akhir yang akan menyelesaikan perjuangan akademiknya,” serunya bangga. Sementara Opa Gio—yang biasanya masih asyik dengan koran pagi dan kopi panas—sudah duduk di meja makan dengan celana chino dan kemeja batik abu-abu, rambut ter

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD