“Adzriel, cepet balik dagingnya, gosong tuh!” seru Aleeya sambil kipas-kipas kepulan asap dari grill mini di balkon lantai dua rumahnya. “Tenang, Kak. Aku udah bolak-balik tadi,” jawab Adzriel cuek sambil membalik sosis dengan penjepit. “Ini daging yang dari Mami ya? Bumbunya mantap.” Aleeya duduk santai di kursi rotan. Malam itu langit cerah, udara cukup dingin tapi menyenangkan. Sejak sore, mereka memang berniat barbecue-an kecil. Untuk mempererat chemistry kakak beradik, kata Papi Dimas. Tapi kebersamaan tenang itu mendadak buyar. Teriakan keras dari depan rumah Kaivandra membuat keduanya refleks menoleh ke arah pagar rumah sebelah. “Buka pintu ini! Kalian pikir kalian siapa berani menghalangi saya masuk?!” Aleeya mengernyit. “Eh, itu suara Eyang nya Mas Kaivandra?” Adzriel yang

