“Mi, aku merasa semua ini hanya mimpi deh,” gumam Aleeya sambil memeluk bantal sofa. Rambutnya masih awut-awutan, piyama belum diganti, tapi senyum tak hilang dari wajahnya sejak membuka mata. Mami Naura melirik putrinya sambil menuang teh ke dalam cangkir bergambar bunga matahari. “Kalau mimpi, itu berarti mimpi bagus. Sekarang Mami mau tanya serius—lamarannya mau dibuat seperti apa?” Aleeya menoleh pelan, menerima teh hangat dari Maminya. “Intimate aja, Mi. Jangan yang terlalu ramai. Jangan undang banyak orang, nanti aku mual.” “Mual karena gugup, atau karena nanti banyak yang nanya kapan nikah?” sindir Mami Naura sambil tersenyum jahil. “Dua-duanya,” balas Aleeya cepat. “Tapi beneran, Mi. Aku pengen yang sederhana. Yang penting suasananya hangat. Nggak usah dekor berlebihan, cukup m

