Begitu sampai di rumah, Aleeya seperti roket yang siap meledak. Setelah pamit singkat ke Kaivandra dan Pak Sopir, dia langsung masuk ke dalam rumah, menendang pelan sepatunya sambil berteriak, “Maaaaamiiiiii!” Dari dapur, terdengar suara panci ditaruh dan langkah cepat yang khas milik Mami Naura. Wanita paruh baya—namun masih terlihat cantik itu muncul dengan celemek motif bunga, wajahnya cemas campur penasaran. “Apa, Leeya? Kenapa? Kamu kenapa pulang sambil teriak-teriak?” Tanpa menjawab, Aleeya langsung masuk ke dalam pelukan Mami Naura. “Mamiii… anakmu dilamar… pakai gelang… ada bunga… ada kembang api… ada lilin… ada makanan enak… dan ada... Mas Kaivandra...” Suaranya makin lirih di akhir kalimat. Mami Naura memegangi pundaknya. “Tunggu. Tunggu. Satu-satu kalau bicara, Leeya. Kamu

