Senja berjalan dengan tatapan lurus ke depan—kosong. Langkah perempuan itu pelan, tapi lebar, seakan ingin cepat sampai ke tempat yang ia tuju. Danau. Salah satu tempat favoritnya sejak dulu. Karena berjalan tanpa benar-benar memperhatikan sekitar, tubuh Senja menabrak seorang wanita yang tampak sedang terburu-buru. “Eh, maaf, Mba.” Perempuan tersebut mengulurkan tangannya, hendak membantu wanita yang ia tabrak untuk bangun. Namun, wanita itu tidak membalas uluran tangannya, justru menampakkan raut masamnya. “Lain kali hati-hati, dong.” Ia menegur dengan sinis. Mata wanita itu menelisik penampilan Senja dari atas hingga bawah. Sedetik kemudian, raut wajahnya berubah. Penampilan Senja begitu berantakan. Matanya memerah akibat tangis. Di pipinya juga terdapat bekas air mata yang sudah

