Perempuan itu masih berusaha memberontak. Sungguh, ia tidak ingin memancing kemarahan suaminya lagi. Senja memukul-mukul d.a.da Elang dnegan tenaganya yang tidka sebrapa. Elang makin mendominasi. Ciumannya makin liar. Ia benar-benar membungkam mulut Senja sepenuhnya. “Kamu kenapa, Senja?” tanya Baskara dari seberang telepon. Daripada terdengar khawatir, nada bicara pria itu lebih pada teriakan sebal karena Senja tidak kunjung menjawabnya. Senja menarik kepalanya ke belakang. Gumpalan air mata memenuhi sudut mata, bersamaan dengan rasa asin yang menjalar di lidah. Ia baru saja mengecap darah dari luka di bibir yang ditinggalkan Elang. “Senja!” Baskara membentak dari seberang sana. “Tidak—“ “Tidak apa, Senja?” tanya Baskara penuh nada memburu. “Kamu jangan macam-macam sama saya,

