“Saya--” Drt-drt-drt! Ucapan Elang terpotong ketika ponsel yang ada di atas meja bergetar. “Sebentar, Bia.” Yasmin mengangguk, membiarkan Elang mengambil ponsel dan mengangkat panggilan itu. “Halo, Mba.” “Kamu bisa ke ruangan Mba sekarang?” Elang menoleh ke arah Yasmin, seolah mempertimbangkan. “Sebentar, Mba.” Pria tersebut menutup bagian spiker dan menghampiri Yasmin. “Bia. Saya izin keluar sebentar. Ada Dokter Wina yang menunggu.” “Iya, nggak apa-apa.” Senyum tipis terbit di bibir Elang. Ia kembali menempelkan ponselnya ke telinga. “Baik, Mba. Saya ke sana sekarang.” “Mba tunggu.” Panggilan berakhir. Elang menatap Yasmin. Sebenarnya, ia tidak yakin meninggalkan wanita tersebut sendirin di sini. “Pergi aja, Elang. Toh, papa kamu sebentar lagi pasti balik.” “Bia yakin

