Ruang kerja pribadi Eros nyaris tak bersuara selain deru lembut AC yang berbaur dengan aroma kayu oak tua dari lemari buku di sekelilingnya. Tirai setengah terbuka, membiarkan cahaya sore menembus kaca dan menimpa permukaan meja kerja hitam mengilap. Di kursi kulit yang tegak, Eros duduk dengan kedua siku bertumpu di permukaan meja, jemarinya meremas ringan batang pena yang sejak tadi tak kunjung ia gunakan.
Pandangannya kosong, menembus celah jendela ke arah halaman belakang, seolah mencari jawaban yang tidak pernah datang. Wajahnya teduh, tetapi garis rahang yang mengeras mengabarkan bahwa pikirannya sedang berkecamuk.
Ketukan ringan di pintu memecah keheningan.
“Masuk,” suaranya rendah, datar.
Antonio melangkah masuk dengan setelan abu-abunya yang rapi. Di tangannya, ada map hitam tebal. Ia menutup pintu, lalu berjalan mendekat, meletakkan map itu tepat di depan Eros.
“Ini, yang Anda minta, Tuan.” Ia menaruhnya di meja, lalu berdiri tegap menunggu.
Eros membuka map itu perlahan, matanya menelusuri deretan foto dan lembaran laporan. Satu foto menampilkan Akashena—kekasih Rose—dalam pelukan seorang perempuan yang tidak asing. Eros mengenali wajah itu dari latar belakang yang pernah dilihat di acara sosial; sahabat dekat Rose, jika ia tidak keliru.
Mivana Recca—atau Anna, begitu lingkaran sosial mereka memanggilnya—adalah teman dekat Rose sejak kuliah. Perempuan berwajah manis dengan rambut cokelat keemasan yang selalu jatuh di bahu, dikenal ramah, murah senyum, dan cerdik dalam membangun jejaring. Ia pernah beberapa kali hadir dalam acara keluarga, bahkan duduk di meja yang sama dengan Akashena. Tak pernah ada yang menyangka, dari semua orang, dialah yang akan menusuk dari belakang.
Dan Akashena... pria berusia 25 tahun yang bekerja di perusahaan keluarga. Putra ketiga keluarga yang lumayan terpandang di mana orang tuanya merupakan pemilik lini usaha kreatif yang sedang naik daun. Penampilannya memesona, tutur katanya halus—citra sempurna bagi publik. Tetapi Eros tahu, di balik itu, ada sifat oportunis yang pandai menyamarkan motif.
“Sudah berapa lama?” tanya Eros.
Antonio mengangguk. “Sekitar 5 bulan terakhir. Intensitasnya… tidak main-main. Ada bukti transaksi, pesan pribadi, juga rekaman visual. Semua sudah diverifikasi.”
Eros membalik foto satu per satu, ekspresinya tak berubah. “Menjijikkan,” ucapnya mencela.
“Seorang pria yang begitu mudah menjual kesetiaan… dan seorang sahabat yang dengan ringan mengkhianati.” Ia menutup map itu, jemarinya mengetuknya dua kali. “Keduanya layak mendapatkan panggung.”
Antonio sedikit mengerutkan alis. “Anda ingin…?”
“Muat di media,” potong Eros. “Bukan gosip murahan—Aku ingin berita itu keluar secepatnya. Keluarkan seluruh fakta, bukti, tanpa embel-embel dramatis. Biarkan publik yang membakar mereka.”
“Publikasi seperti ini akan menghancurkan reputasi dua-duanya.”
“Persis.” Eros menatap Antonio dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. “Dan kau tahu, Antonio… kehancuran kadang adalah cara paling indah untuk membuka jalan baru.”
Antonio terdiam sejenak, sebelum mengangguk patuh. “Baik, saya akan atur.”
Hening sejenak, sebelum Eros mengganti topik bahasan. “Bagaimana dengan Rose? Apa hari ini dia mencoba kabur lagi?”
“Tidak, Tuan,” jawab Antonio datar, namun sudut bibirnya terangkat samar. “Sejauh pengawasan, Nona Rose hanya berkeliling dan duduk lama di serambi. Tidak ada percobaan kabur... Tapi, tentu tetap harus waspada.”
Eros mengambil dadu kecil yang berada di meja, lalu memainkannya. “Awasi terus. Dia pasti masih memiliki sejuta rencana untuk bisa kabur di otak kecilnya,” katanya kemudian. Seolah bisa menebak dengan mudah isi kepala Rose.
“Baik, Tuan.”
🌹🌹🌹
Taman bunga mawar itu senyap, hanya suara desir angin dan aroma manis yang menyelusup di udara. Rose duduk di bangku besi berukir, buku di pangkuannya belum terbuka. Jemarinya sibuk menyentuh kelopak mawar merah di sisinya, seakan mencari ketenangan di antara helai demi helainya.
Setelah bosan membaca di perpustakaan, Ia memutuskan untuk berkeliling dan tidak sengaja menemukan taman bunga mawar di sudut utara villa. Semenjak aksi kaburnya 2 hari lalu diketahui oleh Eros dan membuatnya marah besar, Eros merampas ponsel Rose. Membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa bahkan sekedar untuk menghubungi Clara, asistennya di Velle Florist.
Jeaderos Rajendra, di mata Rose tidak lebih dari sekedar pria b******k, b******n, tidak punya hati, bersikap seenaknya dan yang menjijikkan adalah merasa paling berkuasa atas dirinya. Sialnya, pria itu memiliki paras tampan dan menawan, tubuh tinggi proporsional dengan otot-otot yang membentuk sempurna. Seolah itu adalah anugerah yang Tuhan berikan untuk mengimbangi segala aksi tak bermoral Eros.
Lamunannya terhenti tatkala mendengar langkah sepatu kulit terdengar mendekat. Berat. Terukur. Hingga bayangan Eros jatuh menutup sebagian sinar matahari di wajah Rose.
“Aku mencarimu, ternyata kau di sini.”
Rose menoleh sebentar lalu kembali menatap bunga. “Untuk apa mencariku?”
“Apakah aneh seorang suami mencari keberadaan istrinya?”
Dengan cepat, Rose kembali menoleh. Kali ini tatapannya tajam. Seolah tidak terima dengan apa yang baru saja Eros katakan.
“Sudah kubilang aku bukan istrimu!” ucapan itu mengalir tegas. “Dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi diperistri olehmu!” lanjutnya, tanpa sedikit pun ada rasa takut.
Eros melangkah mendekat. Berdiri tepat di hadapan Rose lalu membungkukkan tubuhnya merapat pada tubuh Rose. Kedua tangannya bertumpu pada bangku besi, mengurung tubuh kecil Rose di sana. Matanya terlalu menghujam, auranya begitu mengerikan membuat keberanian Rose sedikit berkurang.
“Sayangnya ...” ada jeda dalam ucapan itu. “Aku tidak butuh keputusanmu, Rose. Suka atau tidak, sudi tidak sudi, aku telah meminangmu menjadi istriku—atas penawaran ayahmu. Jika kau ingin marah, marah lah padanya mengapa sampai menawarkan putri tercintanya demi uang,” bisiknya, namun siapapun yang mendengar akan tahu betapa perkataan itu sangat menusuk.
“Kau pasti telah menindasnya!” tuduh Rose.
Eros tersenyum angkuh. “Dengar, sejujurnya aku tidak suka berkata panjang lebar apalagi pada istri merepotkan seperti kau, Rose. Tapi, satu hal yang harus kau tahu bahwa aku tidak pernah menindas orang-orang kecil seperti ayahmu. Itu fakta dan kau bisa tanya pada semua orang yang pernah bekerja untuk ayahmu.”
“Ayahku baik-baik saja. Kami bahkan masih sempat liburan dan merayakan ulang tahunku sebelum kemudian ia bertemu denganmu dan berakhir dengan bunuh diri. Kau pasti menindasnya! Kau pasti mengancamnya!”
Tatapan Eros meredup, namun bukan karena sedih—lebih seperti binatang buas yang kesal karena mangsanya terlalu berisik. Sudut bibirnya terangkat tipis, sinis.
“Lucu sekali, Rose. Kau berbicara seakan kau tahu segalanya… padahal yang kau miliki hanyalah potongan-potongan cerita yang kau yakini sendiri kebenarannya.”
Rose menatap balik tanpa bergeming, meski jantungnya mulai berdegup tak beraturan. “Kau pikir aku akan percaya pada mulut busukmu? Jangan bermimpi Eros!”
Cukup. Habis sudah kesabarannya. Eros menegakkan tubuhnya untuk kemudian menunduk lagi, kali ini jaraknya begitu dekat hingga napasnya mengusik kulit pipi Rose. Jemarinya terulur, mencengkeram dagu Rose, memaksa wajah itu menghadap ke arahnya.
“Percaya atau tidak, bukan urusanku.” Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang ditahan. “Tapi aku sangat tidak suka ketika kau melemparkan tuduhan murahan itu padaku.”
“Jikapun itu benar. Harusnya kau bisa menolak penawaran gila ayahku! Bukan malah menerimanya!”
“Awalnya,” ucap Eros. “Tapi setelah memasukimu, sepertinya aku tidak menyesal. Kau terlalu nikmat dan membuatku ingin terus memasukimu, Rose,” bisiknya begitu sensual.
Membuat wajah rose memerah antara malu dan marah. Ia mencoba menepis tangan Eros, namun genggaman itu justru menguat. Pria itu menunduk sedikit lagi, matanya menelusuri wajah Rose.
“Kau sialan! Tidakkah kau sadar betapa vulgar ucapanmu itu!”
“Kau terlalu naif, Rosevelle,” ucapnya hampir seperti desahan, tapi penuh penekanan. “Tidakkah kau sadar bahwa desahanmu lebih vulgar dari ucapanku,” katanya dengan senyum smirk.
Tubuh Eros kembali menjauh, namun siapa sangka jika pria itu menarik tangan Rose dan membuatnya refleks berdiri. Gerakan tangannya berpindah cepat, menarik pinggang Rose dengan begitu lihai hingga tubuh mereka merapat nyaris tanpa jarak. Tatap keduanya kembali bertemu, napas Rose tercekat, matanya melebar, tapi sebelum ia sempat bicara, Eros lebih dulu menciumnya, melumatnya kasar.
Ciuman itu tidak hanya dalam, menuntut, tapi juga menguasai, seperti bentuk peringatan kecil bahwa melawan hanya akan membuat Rose semakin tak punya pilihan.
Rose memukul d**a Eros, tapi pria itu sama sekali tak bergeming. Sebaliknya semakin lincah dan panas melumat bibir Rose. Setelah cukup lama bermain, akhirnya Eros melepaskan pangutannya.
Napas Rose terengah, bibirnya memerah.
“Setiap kali kau mencoba melawanku dengan kata-kata tak bergunamu itu…”Eros menelusuri pipi Rose dengan jari-jemarinya. “Aku akan mengingatkanmu seperti ini,” peringatnya tepat di bibir Rose.
Jemarinya kemudian berpindah ke bagian tengkuk Rose, lalu menariknya. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Rose dan membisikkan sesuatu. “Harus kuakui jika bibirmu ... ternyata cukup nikmat untuk kulumat berkali-kali,” ujarnya dengan suara yang berat. Terdengar begitu m***m dan b******k.
Eros menjauhkan kepala. Terlihat senyum puas terbit di bibirnya, membuat emosi Rose semakin tersulut dan hampir melayangkan sebuah tamparan jika saja tangan Eros tidak lebih dulu menangkasnya.
“Kau sangat suka melawanku rupanya, ya. Tapi tidak masalah, semakin kurang ajar, semakin aku menyukainya.” Eros mengecup punggung tangan Rose yang mengepal, tatap matanya mengunci tajam. Seolah memberitahu Rose betapa berbahayanya seorang Jeaderos Rajendra jika sudah ditantang.
Ia melepaskan tangan itu kasar lalu melangkah pergi. Meninggalkan Rose yang masih terengah, bibir panas dan juga amarah yang menggulung sejak tadi. Wajahnya memerah entah karena marah Eros kembali menciumnya sembarangan, tidak terima dengan kata-kata vulgar dan sikap dominannya, atau malah efek lain yang tak ingin ia akui.
“b******k!” umpatnya.
🌹🌹🌹