02 🌹 Tawanan Presdir

1231 Words
Pagi itu, cahaya matahari menembus tirai tipis, memantulkan semburat keemasan di lantai marmer yang dingin. Ruangan luas itu tercium samar aroma roti panggang, pasta, s**u segar dan teh yang menggoda, namun tak satu pun mampu membangkitkan selera Rose. Ia duduk di kursi berlapis beludru krem, membelakangi jendela besar. Di hadapannya, sebuah meja bundar kecil tertata rapi—sepiring pasta krim, roti hangat, segelas jus jeruk segar. Semua itu disiapkan oleh pelayan sejak pagi buta, tetapi tak sedikit pun disentuhnya. Ingatannya kembali melayang pada kejadian semalam di mana Eros—Pria asing yang tiba-tiba merecoki hidupnya itu merenggut kesucian yang sangat ia jaga selama 21 tahun. Bahkan dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. Tubuhnya terasa remuk redam, ngilu di beberapa bagian. Pria itu benar-benar melakukannya lebih dari sekali, membuat Rose mencapai puncak berkali-kali. Sialan! Batinnya. Ia membenci dirinya sendiri karena bisa-bisanya menyerah dan mendesah pada pria itu. Tangan Rose bertumpu di pangkuan, jemarinya saling meremas erat. Ia tidak menyangka bahwa hidupnya akan berakhir seperti ini. Hal itu mengingatkannya pada ucapan Eros seminggu yang lalu. “Kau adalah istriku. Ayahmu sendiri yang menawarkanmu padaku.” “Aku sudah meminangmu setahun yang lalu dengan mahar yang begitu fantastis.” Eros tidak hanya berbicara, ia bahkan melemparkan berkas dan dokumen yang menandakan bahwa dirinya memang milik pria itu secara sah. Remasan tangannya semakin erat bersamaan dengan rasa sesak yang menyergap paru-parunya. “Tidak mungkin. Ayah tidak mungkin rela menjualku demi uang,” lirihnya. “Ayah ... Ini tidak benar, ‘kan?” matanya berkaca-kaca. “Kau ... tidak sejahat itu pada putrimu, kan? Ayah ... aku sangat menderita ...” Perlahan cairan bening itu membasahi pipinya. Tangisnya pecah. Sesaknya membuncah. tangannya bergerak memeras gaun bagian d**a dengan keras, punggungnya ikut bergetar hebat. Rose benar-benar rapuh, hancur, dan putus asa disaat yang bersamaan. Moment itu menenggelamkan rose cukup lama, hingga suara ketukan pintu memecah udara. Tak menunggu jawaban, pintu itu berderit terbuka. Rose segera waspada. Ia buru-buru menghapus sisa air mata dan duduk setenang mungkin. Matanya tak bergeming ke arah sumber suara, sampai langkah sepatu kulit itu berhenti tepat di hadapannya. Sosok itu adalah Antonio—Asisten pribadi sekaligus tangan kanan Eros. Pria itu berperawakan tegap, mengenakan jas hitam rapi dengan ekspresi wajah dingin tanpa guratan emosi. Seolah Antonio terlahir memang untuk berada di sisi seorang Jeaderos Rajendra. Serasi sekali. Tanpa basa-basi, Antonio merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kemasan kecil berbentuk persegi panjang, lalu meletakkannya di atas meja dengan bunyi ‘tak’ yang nyaring di tengah hening. “Tuan Eros berpesan bahwa Anda harus meminumnya. Jangan sampai melewatkannya barang satu hari pun,” ucapnya datar. Rose hanya melirik benda itu sekilas, lalu mengerutkan kening. “Apa dia sudah benar-benar gila?!” nada suaranya tajam, disertai helaan napas penuh kejengkelan. “Itu demi kebaikan Anda sendiri.” Rose terkekeh. “Apa? Demi kebaikanku sendiri katanya? Yang benar saja!” tatapnya sinis. Namun, ia tetap meraih kemasan itu, mengeluarkan satu tablet, lalu menelannya dengan gerakan cepat. “Puas?” tanyanya, bibirnya melengkung miring. Antonio tak menjawab, seolah pertanyaan itu hanyalah gumaman angin. “Tuan Eros juga berpesan agar Anda menghabiskan sarapan. Dan… jangan coba-coba untuk kembali kabur.” Kursi di sebelahnya ditarik. Antonio duduk di sana, tubuhnya condong sedikit ke depan, namun wajahnya tetap lurus ke arah Rose, memberi tekanan tanpa kata. “Kau—” Rose menghentikan ucapannya sendiri, memutar bola matanya. Hatinya mengumpat dalam diam. Eros benar-benar mengekang langkahnya, mengatur napasnya, memaksanya tunduk pada aturan yang tidak pernah ia sepakati. Bahkan untuk hal sekecil sarapan, ia sampai mengirim Antonio untuk memastikan Rose menyentuh sarapannya. Sungguh sempurna. “Kapan tuan sialanmu itu akan membebaskan aku?” “Makan sarapanmu, Nona,” balasnya tanpa ragu. Rose mengembuskan napas keras. Berdebat dengan Antonio sama sia-sianya seperti berteriak ke dinding batu. Ia adalah bayangan Eros—dingin, patuh, tak tergoyahkan. Menjawabnya sama saja memberi makan pada kesombongan pria itu. Dengan gerakan enggan, ia mengambil garpu, menusukkan pada gulungan pasta, dan menyuapkannya ke mulut. “Apakah Akash baik-baik saja?” tanyanya tiba-tiba ditengah sarapan. Memecah ritme sunyi yang menggantung di antara mereka. Antonio menatapnya datar. “Anda ingin jawaban yang jujur?” “Tentu saja!” Satu alisnya terangkat tipis. “Mantan kekasih Anda—” “Dia masih kekasihku, Antonio.” Rose memotong cepat, nada suaranya meninggi. Pria itu tidak bereaksi, melanjutkan kata-katanya seolah ucapan Rose hanya hembusan udara. “Dia baik-baik saja. Hanya patah kaki kiri dan tangan kanan. Sekarang masih berada di rumah sakit.” “Apa?” suara Rose meninggi, napasnya tersengal, mata mulai berkaca. “Dia patah kaki dan tangan? Dan kau masih berani berkata bahwa kekasihku masih baik-baik saja?!” “Dia pantas mendapatkannya karena berani mencoba membawa anda kabur. Masih bagus Tuan Eros tidak membuatnya mati saat itu juga.” Bunyi dentum kecil terdengar ketika Rose memukul meja, garpu di tangannya bergetar. Rahangnya mengeras, jemarinya menggenggam logam dingin itu seolah hendak menghancurkannya. “Psikopat! Eros yang harusnya mati! Bukan Akash!” Antonio berdiri. Tangannya keluar dari saku, gerakannya tenang namun sarat wibawa yang mengintimidasi. “Nona Rosevelle, sebaiknya anda mulai patuh dan berhenti menantang tuan Eros. Dia bisa melakukan apa pun, termasuk… melenyapkan kekasih Anda.” Kalimat itu meluncur begitu santai, namun menancap dalam seperti pisau. Ia melangkah ke pintu, berhenti sejenak, lalu menoleh tipis. “Biar bagaimana pun, Tuan Eros adalah suami Anda yang sah. Mau tidak mau, suka tidak suka. Anda, harus belajar menerimanya.” Pintu menutup perlahan, meninggalkan Rose sendirian. Napasnya memburu, matanya berkilat penuh amarah. Emosi dalam dirinya menumpuk, berlapis-lapis, tak lagi hanya marah pada Eros, tapi juga pada semua yang mengekangnya. Sarapan di depannya kini tak lebih dari simbol dingin penjara tak kasatmata yang mengurungnya. 🌹🌹🌹 Begitu pintu tertutup, keheningan kembali membungkus kamar itu. Hanya detak jam di dinding dan desah napas Rose yang terdengar, cepat dan terputus-putus akibat amarah yang belum reda. Ia menatap meja di hadapannya—pasta yang tinggal setengah, tablet putih yang masih meninggalkan rasa pahit di lidah, dan secangkir teh yang uapnya mulai menghilang. Dadanya sesak. Bukan hanya karena marah, tapi juga karena rasa bersalah yang menusuk-nusuk. Akash… Rose menelan ludah, meremas serbet di pangkuannya. Bayangan wajah Akash di ranjang rumah sakit, dengan kaki dan tangan terbalut perban, terputar di kepalanya tanpa henti. Matanya panas, tapi ia menahan air mata itu mati-matian. Ia benci terlihat rapuh, apalagi di tempat ini. Di luar, sinar matahari pagi merayap masuk melalui celah tirai. Bukannya memberi hangat, cahaya itu justru terasa menelanjangi luka batinnya. Pikirannya melayang ke Eros. Kata-kata Antonio masih menggema di telinga—“suami anda yang sah”. Kalimat itu seperti belenggu yang semakin mengencang di lehernya. Rose menggertakkan gigi. Jika semua ini benar, ia tidak akan membiarkan pernikahan ini menjadi penjara seumur hidupnya. Ia mendorong piring menjauh, berdiri dari kursinya, lalu melangkah ke arah jendela. Jemarinya menyingkap tirai dengan kasar. Dari lantai atas vila itu, pemandangan laut biru membentang luas. Indah, tapi juga kejam, karena mengingatkannya betapa jauh ia dari kebebasan. Rose menyandarkan dahinya pada kaca. Napasnya berembun di permukaan dingin itu. Dalam hati, ia berjanji—tidak peduli seberapa dalam cengkeraman Eros, ia akan menemukan cara keluar. Namun, janji itu dibarengi ketakutan yang ia benci mengakui: ketakutan pada apa yang bisa Eros lakukan… dan pada dirinya sendiri karena di balik semua kebencian itu, ada sesuatu yang ia takuti lebih dari kehilangan kebebasan: Bualan yang dibawa oleh Eros adalah sebuah kebanaran. Bahwa Ayahnya—cinta pertamanya, benar-benar rela menukarnya demi uang. 🌹🌹🌹
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD