01🌹 Hukuman Yang Penuh Gairah (21+)

1139 Words
Pintu kamar itu terbuka dengan hentakan keras, dentumannya memantul di dinding, menggetarkan udara. Dalam hitungan detik, tubuh Rosevelle terhempas ke atas ranjang king-size yang sudah satu minggu ia tempati. Mata Rose membelalak, napasnya tersengal, jantungnya memukul tulang rusuk seolah ingin meloncat keluar. Eros berdiri di ujung ranjang. Tubuh tegapnya membentuk bayangan pekat di bawah cahaya lampu gantung yang temaram. Rahangnya mengeras, sorot matanya gelap dan berbahaya—bukan sekadar marah, tapi marah yang bercampur sesuatu yang jauh lebih beracun: kepemilikan. “Kamu pikir kamu bisa kabur dariku?” katanya sambil melonggarkan dasi yang bertengger di lehernya. Suaranya rendah, serak, tapi tajam seperti pisau. Langkahnya perlahan mendekat, setiap pijakan terasa berat dan mengancam, membuat Rose refleks merangkak mundur ke sisi ranjang, mencari jarak yang aman. “Aku tidak—” “Diam!” bentaknya. Jemari tangannya mencengkram rahang Rose. “Sekali lagi kau mencoba kabur, aku pastikan kekasih sialanmu itu akan kehilangan kedua kakinya!” Rose menelan ludah, mencoba menahan gemetar. Jemari mungilnya meremas sprei, otaknya sibuk mencari celah untuk melawan. Aroma parfum maskulin yang tajam dan hangat menyusup masuk, bercampur dengan napas berat pria itu. Dengan sekali dorongan, tubuh Rose kembali jatuh ke kasur. Eros naik ke atas tempat tidur kemudian menundukkan kepala, membuat wajahnya hanya sejengkal dari wajah Rose. “Kau milikku. Camkan itu baik-baik!” Rose mencoba mendorong d**a Eros, tapi perbedaan tenaga mereka terlalu jauh. Tangan kecilnya hanya terperangkap di balik jemari besar Eros yang mencekal kedua pergelangan tangannya di atas kepala. Gerakannya dibatasi, napasnya terengah, tapi tatapan itu—tatapan yang sama sejak dia memutuskan melangkah keluar rumah tadi—masih bertahan. “Aku bukan milikmu, Eros. Aku tidak akan—” Satu gerakan cepat. Eros menekan tubuhnya lebih rapat ke sisi Rose, membuat Rose tak bisa menggerakkan pinggulnya sedikit pun. Nafasnya jatuh di telinga Rose, panas dan menusuk. “Kamu pikir kata-kata itu berlaku di rumah ini?” gumamnya, nada rendah namun penuh ancaman. “Di sini… kata-kataku adalah hukum yang harus dipatuhi.” Rose berusaha memalingkan wajah, tapi jari Eros kembali mencengkeram rahangnya, memaksanya menatap lurus ke mata gelap itu. “Kau bahkan tidak tahu seberapa sabarnya aku sekarang setelah apa yang coba kau lakukan bersama kekasih brengsekmu itu!” “Kau yang b******k! Kau yang menculikku dan menawanku di sini! Kau sialan Eros!” “Aku suamimu! Aku berhak atas dirmu dan juga tubuhmu! Apa kamu mengerti, Rose?!” “Dan kau pikir aku akan percaya padamu? Surat-surat itu pasti palsu! Ayahku tidak mungkin menukar hidupku demi uang! Kau pasti telah menipunya!” Tatapan tajam Eros melayang. Rose benar-benar sangat menguji kesabarannya. “Berani-beraninya kau berkata seperti itu padaku! Kau pikir kau siapa, hah?!” Eros mengencangkan cengkramannya di rahang Rose, membuat wanita itu terlihat sangat kesakitan. Rose menahan sakit itu sekuat tenaga. “Kalau kau pikir aku akan nurut, kau salah besar, sialan!” Eros tertawa pendek—tawa dingin yang sama sekali tak terdengar seperti hiburan. “Bagus. Tetaplah melawan.” Jemarinya turun ke pergelangan tangan Rose, menekan urat nadinya cukup kuat untuk membuatnya meringis. “Itu akan membuatku lebih tertantang dan merasa puas saat akhirnya kau menyerah.” Seketika, Eros melepas cekalannya. Dan ketika Rose mencoba bangkit, dengan cepat, ia meraih pinggang Rose, membalikkan tubuhnya, menindih punggungnya dengan lututnya, lalu menunduk di samping telinganya. “Kabur dariku, itu sama aja bunuh diri. Jadi mulai sekarang, ingat satu hal—” ia menahan jeda, membiarkan napasnya membakar kulit leher Rose, “—aku adalah awal dan akhir dari hidupmu.” “Kau gila!” Eros tersenyum tipis, ia kembali membalik tubuh Rose, lalu melumat bibir wanita itu tanpa ampun. Meninggalkan jejak panas yang ia pastikan akan selalu Rose ingat setiap detiknya. “Aku memang gila, dan itu karena kau!” bisiknya. Dan tentu saja, ia tidak memberi Rose ruang untuk bernapas lebih dari 5 detik. Bibirnya kembali menyambar bibir Rose, kali ini lebih dalam, lebih liar, membuat gadis itu terpaksa menerima ritme yang dipaksakan padanya. Tangannya bergerak cepat, merobek segala penghalang di tubuh Rose dengan gerakan tegas dan tanpa ragu. Rose meronta, tapi setiap gerakannya hanya membuat Eros menahan lebih kuat. “Kau pikir aku aku akan membiarkanmu begitu saja setelah membuatku marah hari ini, hmmmm?” Suaranya berat, berbahaya, sekaligus memabukkan. Tanpa peringatan, Eros menindih tubuh Rose sepenuhnya, panas tubuhnya menekan, membuat Rose merasa terperangkap tanpa jalan keluar. Jemarinya yang kokoh menjelajah dari pinggang ke punggung, menarik tubuh Rose mendekat hingga tak ada celah di antara mereka. “Berhenti. Apa yang akan kau lakukan!” Rose mencoba memprotes, tapi desahannya pecah ketika Eros menunduk, menyerbu lehernya dengan ciuman panas yang bergeser menjadi gigitan ringan, meninggalkan tanda. “Tentu saja memberimu pelajaran karena telah berani melawanku!” ucapnya di sela napas berat. Eros menelusuri setiap inci kulit Rose seakan menghafalnya, memaksanya menerima sensasi yang membuatnya kewalahan. Dan ketika tangannya berhenti tepat di kedua bongkahan milik Rose, ia meremasnya kuat. Membuat Rose kembali mendesah. Gerakannya dominan, ritmenya sengaja mempermainkan Rose, menarik ujungnya, memilin, menekan, hingga membuat gadis itu di ambang kegilaan. Rose menahan bibirnya agar tak mendesah, tapi tubuhnya sudah bicara lebih dulu—panas, b*******h, napas tak teratur, dan jemarinya yang tak sadar mencengkeram seprai. Sensasi aneh itu terasa semakin menggulung tubuhnya. Sialan! “Aku suka ini. Ukurannya tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Pas di tanganku,” katanya begitu terang-terangan lalu mengulumnya lembut. Membuat Rose refleks menampar pipi Eros. “Dasar b******k!” makinya. “Enyah dari tubuhku!” Rahang Eros mengeras. “Kau rupaya suka bermain kasar, ya.” Ia kembali mencengkram kedua pipi Rose dengan tangannya. “Kalau begitu, biar kuperlihatkan bagaimana caranya bermain kasar!” Ia melepaskan cengkramannya, membuka dasi, lalu dengan gerakan cepat meraih kedua tangan Rose, meletakkannya diatas kepala dan mengikatnya di sana. “Sialan! Lepaskan aku!” “Diam! Kau yang menginginkannya, Rose! Jangan salahkan aku!” Eros segera menanggalkan seluruh penghalang yang berada di tubuhnya. Ia melebarkan kaki Rose, memposisikan tubuhnya di titik yang tepat dan dengan satu hentakan, penyatuan itu terjadi dengan begitu cepat. Eros bergerak menekan, seakan benar-benar memberi pemahaman kepada Rose bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya dan mampu melakukan apapun terutama ketika Rose tidak mau patuh padanya. Rose refleks mendesah. Rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Itu adalah kali pertama, dan tanpa kelembutan yang menyertainya. “Eros! Berhenti! Kau gila! Sakit! Kau melukaiku!” Namun, tentu saja seorang Jeaderos tidak menggubrisnya. Ia bergerak cepat, dalam dan menekan, menciptakan ritme yang entah kenapa malah membuat gairah Rose tersulut. Tubuhnya yang murahan benar-benar mengkhianatinya. Sialan! Rose memejamkan mata, tak sanggup melawan sensasi yang datang bertubi-tubi. Setiap gerak Eros adalah perhitungan yang teliti—dorongan yang mendesak di pinggul, tarikan keras di aset, dan lumatan yang liar berpadu menciptakan hasrat yang tak terkendali. “Eros…” suaranya pecah, antara memohon dan menolak. Senyum tipis terbit di bibir Eros. “Jangan di tahan, sayang. Aku tahu kau menyukainya.” 🌹🌹🌹
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD