Begitu mobil berhenti di pelataran rumah, Eros langsung mematikan mesin. Ia tidak memberi Rose kesempatan untuk membuka pintu sendiri—pria itu sudah lebih dulu keluar dan melingkarkan tangannya di pinggang Rose, menuntunnya masuk ke dalam rumah. Setiap langkahnya begitu cepat, penuh urgensi. Rose bahkan nyaris tak sempat bernapas ketika punggungnya tiba-tiba menempel pada pintu kamar mereka yang baru saja ditutup Eros dari belakang. “Eros—” suaranya tercekat karena bibir Eros sudah menempel pada lehernya, panas dan rakus. “Aku sudah menunggu sepanjang malam,” gumamnya, suara beratnya menggetarkan telinga Rose. Tangan besar pria itu melingkari pinggang rampingnya, meremasnya lembut seolah tak ingin melepas. Rose menggigit bibir, separuh malu separuh terhanyut. “Kau bahkan tidak membiark

