Malam itu ruang baca terasa hangat, hanya ditemani cahaya lampu lantai yang temaram. Rose berbaring santai di sofa, kepalanya bersandar di pangkuan Eros. Jemari pria itu sibuk memainkan helaian rambutnya, kadang menyelipkan ke telinga, kadang hanya mengusap lembut seolah itu menjadi salah satu bagian favorit Eros. “Rose?” panggilnya dengan suara yang lembut. “Ya?” “Kau tahu?” suara Eros dalam, penuh keseriusan, “Akhir-akhir ini aku memikirkan sesuatu.” Rose sedikit memiringkan kepalanya, menatap Eros. “Apa itu?” “Aku ingin publik tahu bahwa kau milikku, Rose. Istreriku yang sah. Pasangan hidupku yang begitu indah,” katanya dengan raut wajah yang dangat serius. Rose menatap wajah itu lekat. Senyum kecil tersungging, tapi matanya menyimpan keraguan. “Maksudmu... go public?” Eros

