05 🌹 Kolam Renang Menjadi Saksi

1284 Words
Eros menurunkan tubuhnya, duduk di sisi Rose, membuat jarak di antara mereka nyaris hilang. Kehangatan tubuhnya kontras dengan dinginnya udara malam, tapi bukannya menenangkan, justru membuat Rose semakin gelisah. Ia mengulurkan tangan, meraih ponsel Rose yang tergeletak. Jemarinya yang panjang memainkan benda itu sejenak, lalu tatapannya kembali menghujam Rose. “Hanya karena satu pria busuk itu, kau terlihat seakan dunia berhenti berputar,” ucap Eros, nada suaranya datar namun tajam. “Menyedihkan.” Rose segera meraih ponselnya kembali, tapi Eros lebih cepat. Ia menahan pergelangan tangan Rose, mencengkeramnya hingga gadis itu terpaksa menoleh. “Lepaskan, Eros.” Suaranya pecah, matanya mulai berair. Namun pria itu justru mendekatkan wajahnya, jarak mereka hanya tinggal beberapa helaan napas. “Kau terlalu sibuk meratapi pengkhianatan seorang pecundang, sampai lupa siapa dirimu. Rosevelle Ishvanty yang kukenal seharusnya tidak selemah ini.” Rose bergetar, antara marah, sakit hati, dan terintimidasi oleh kedekatan itu. “Kau tidak tahu apa-apa tentangku… jangan sok bicara seakan kau mengenalku,” balasnya dengan sisa keberanian yang ia punya. Senyum tipis terbentuk di bibir Eros. Ia melepas cengkeramannya hanya untuk kemudian menyentuh dagu Rose, mengangkat wajahnya agar menatap langsung ke matanya. “Aku tahu lebih dari yang kau kira,” bisiknya, nyaris terdengar seperti ancaman. “Dan aku akan pastikan… kau berhenti membuang air mata untuk pria yang bahkan tidak pantas menyentuh bayanganmu.” Rose tercekat, hatinya makin kacau—antara ingin menampar Eros, berteriak padanya, atau justru runtuh di hadapannya. Eros tiba-tiba membuka kancing kemejanya satu per satu, gerakannya tenang tapi penuh wibawa. Rose hanya bisa terpaku menatap, tak sempat bertanya untuk apa pria itu melakukannya. Sampai akhirnya, tanpa sepatah kata pun, Eros melangkah ke tepi kolam dan menjatuhkan tubuhnya ke dalam air. Cipratan air memercik ke wajah Rose, membuatnya terkejut. Beberapa detik kemudian, Eros muncul kembali ke permukaan. Rambut hitamnya yang basah menempel di kening, tetesan air menuruni rahang tajam dan dadanya yang bidang. Ia berenang mendekat, lalu menengadah ke arah Rose yang masih duduk di tepi kolam. “Turunlah, Rose. Berenang bisa membuat pikiranmu lebih tenang.” Suaranya dalam, menggema bersama riak air. Rose tercekat. Matanya tak sengaja menelusuri tubuh Eros yang kini terekspos sepenuhnya—otot d**a, lengan, hingga garis pinggang yang tercetak sempurna. Itu jelas bukan kali pertama Rose melihat tubuh Eros namun entah mengapa, kali ini, terasa berbeda. Lampu di sekitar kolam memantul di permukaan air, menyorot tubuh pria itu hingga terlihat nyaris tidak nyata. Bak dewa Yunani yang turun dari langit, pikir Rose, sebelum buru-buru menggeleng untuk mengusir imajinasi liarnya sendiri. “Tidak perlu. Lagipula aku tidak mungkin—” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tangan Eros sudah terulur cepat, mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Dalam sekejap, tubuh Rose tertarik masuk ke dalam kolam. Air dingin menyelimuti tubuhnya, membuatnya refleks berpegangan erat pada kedua pundak Eros. “Eros!” teriaknya, terengah, rambutnya yang basah menempel di wajah. Pria itu sama sekali tak terganggu. Justru kedua lengannya bergerak sigap, melingkari pinggang Rose, menahan tubuh mungil itu agar tetap mengapung. Jarak mereka terlalu dekat, begitu rapat hingga Rose bisa merasakan setiap detak jantung Eros yang berpacu di balik dadanya. Senyum tipis tersungging di bibir Eros. “Lihat? Tak sesulit yang kau bayangkan,” bisiknya, suara rendahnya tenggelam di antara suara gemericik air. Senyum tipis Eros tak luntur, bahkan semakin lebar ketika Rosevelle berusaha melepaskan diri. Setiap kali ia menggerakkan tangan atau mendorong d**a bidang itu, Eros hanya mempererat pelukannya di pinggang Rose. “Lepaskan aku, Eros,” ucap Rose, suaranya bergetar antara marah dan gugup. “Tidak.” Jawaban Eros tegas, pendek, tak memberi ruang untuk ditawar. “Kau terlalu indah untuk dilepaskan begitu saja,” katanya. Terdengar memiliki makna lain dari yang seharusnya. Rose menahan napas. Ucapan Eros selalu saja membuat sesuatu dalam dadanya bergerumuh. Namun yang membuatnya kini lebih terasa berbahaya bukanlah ucapan pria itu, melainkan jarak di antara mereka yang hampir tak ada. Napas Eros berhembus panas di wajahnya, tatapan hitam itu mengunci matanya tanpa memberi kesempatan untuk berpaling. “Kau terlalu mudah goyah hanya karena berita murahan,” bisik Eros, nadanya rendah dan menusuk. “Lihat aku, Rose. Aku di sini bersamamu. Bukan dia.” Rose membuka mulut untuk membalas, tapi kata-kata tercekat begitu saja ketika Eros tiba-tiba menunduk lebih dekat, jarak bibir mereka hanya terpisah setetes air. Rose memejamkan mata, tubuhnya kaku dalam pelukan itu. “Deg-degan?” tanya Eros, nyaris berbisik, senyum licik tergambar di sudut bibirnya. Ia menundukkan kepala sedikit lagi, hingga bibirnya benar-benar menyentuh bibir Rose sekilas—melumatnya singkat namun cukup membuat d**a Rose bergetar hebat. Rose terperangah, jantungnya seolah melompat keluar. “Eros!” serunya dengan nada yang lebih panik. Namun pria itu tetap tenang, bahkan semakin mempererat genggaman di pinggangnya. “Ingat baik-baik,” suaranya berdesis, tajam tapi menawan, “kau adalah milliku. Kau hanya boleh memikirkanku dan mencintaiku. Tidak boleh yang lain.” Rose masih terengah, matanya memandang Eros dengan campuran marah, bingung, dan tak percaya. Air kolam yang dingin tak cukup menutupi panas yang membakar pipinya. Eros menatapnya lekat-lekat, lalu menurunkan suaranya, dalam tapi jelas. “Kapan kau akan sadar, Rose? Akash itu hanya bayangan. Seseorang yang kau kira memegang hatimu, tapi nyatanya ia mengkhianatimu tanpa ragu.” Rose terdiam, wajahnya menegang. “Berhenti membuang air mata untuk pria lemah seperti dia.” Jemari Eros menelusuri sisi wajah Rose, lembut tapi terasa seperti klaim. “Lupakan dia. Buang nama itu jauh-jauh dari hidupmu. Karena aku tidak mengizinkan siapapun ada di hatimu. Hanya boleh aku. Mengerti?” Rose menelan ludah, hatinya bergetar hebat. “Kau tidak mengerti… aku—” “Aku sangat mengerti,” potong Eros cepat, sorot matanya berkilat penuh keyakinan. “Kau hanya takut melepaskan. Tapi dengar aku, Rosevelle… tak ada lagi yang tersisa untukmu di sisinya. Yang tersisa hanya aku—orang yang bahkan tanpa kau sadari, sudah menggenggammu lebih kuat dari siapa pun.” Ia mendekat lagi, bibirnya nyaris menyentuh telinga Rose saat berbisik, “Lupakan dia, Rose. Karena cepat atau lambat… aku akan membuatmu hanya mengingatku.” Eros mendekat lebih rapat, tubuh mereka masih saling menempel dalam air. Jemarinya yang satu tetap menahan pinggang Rose, sementara tangan satunya turun sedikit, mencengkeram aset berharga Rose dengan tekanan yang membuat gadis itu terkejut hingga tercekik napasnya. “Ah—Eros!” seru Rose refleks, matanya melebar, tubuhnya kaku antara marah dan malu. Tatapan Eros tak bergeser sedikit pun. “Dengarkan baik-baik,” suaranya berat, penuh tekanan, “aku tidak main-main dengan kata-kataku.” Remasannya memberi penegasan siapa yang sedang berkuasa. “Kau boleh membenciku, melayangkan kata-kata kasar itu padaku, bahkan boleh melawanku seumur hidupmu. Tapi jangan pernah berpikir kabur dari tempat ini, Rose.” Ia menunduk lebih dekat, bibirnya menyentuh garis rahang Rose, nyaris seperti ciuman tapi lebih terasa ancaman. “Di luar sana, wartawan sudah menunggu di rumahmu… juga di Velle Florist. Mereka lapar, Rose. Mereka akan merobek-robekmu dengan pertanyaan, menelanjangimu dengan kamera, dan kau tidak akan punya ruang untuk bernapas. Hanya di sini kau bisa aman.” Eros menatapnya lurus, dingin tapi mempesona. “Ingat ini... tidak ada tempat lain untukmu… selain di sisiku.” Eros akhirnya melepaskan cengkeramannya, membuat Rose terhuyung sedikit di dalam air. Tatapannya masih menusuk sebelum ia berbalik, berenang singkat lalu naik ke tepi kolam. Dengan gerakan santai namun penuh wibawa, ia mengibaskan air dari tubuhnya, lalu meraih handuk putih yang sudah tersedia di kursi dekat sana. Tanpa menoleh lagi, Eros melangkah pergi, meninggalkan Rose yang masih tercekat di dalam kolam. Jantung Rose berdegup tak karuan, pikirannya kalut antara amarah, malu, dan rasa takut yang bercampur aduk. Air yang membasahi tubuhnya tidak cukup menetralkan panas yang ditinggalkan oleh sentuhan Eros. Ia terdiam, tubuhnya gemetar, bibirnya bergetar menahan umpatan yang tak kunjung keluar. Dan untuk pertama kalinya, Rose benar-benar merasa terperangkap di dalam lingkaran Eros—tanpa jalan keluar. 🌹🌹🌹
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD