Pagi itu terasa berbeda bagi Giana. Bukan hanya karena sinar matahari yang masuk lembut melalui jendela besar dapur rumah mereka, tapi karena untuk pertama kalinya sejak rangkaian panjang kelelahan, demam, dan hari-hari rapuh setelah pernikahan, tubuh Giana benar-benar terasa ringan. Kepalanya tidak lagi berdenyut. Tenggorokannya tidak perih. Napasnya stabil. Kakinya menapak lantai dengan kuat tanpa rasa goyah sedikit pun. Ia sehat. Sepenuhnya. Giana berdiri di depan kitchen island dengan rambutnya diikat sederhana. Mengenakan celemek berwarna krem yang sedikit kebesaran, ia menatap bahan-bahan di hadapannya dengan mata berbinar. Telur, s**u, mentega, roti, keju, potongan buah segar, cokelat, dan bahan-bahan kecil lain yang ia siapkan dengan penuh perhitungan. Hari ini, ia ingin melaku

