Bab 126

988 Words

Giana tidak langsung membereskan dapur setelah sarapan itu selesai. Ia berdiri beberapa saat, menatap punggung Mark yang masih duduk santai di kursi makan, menikmati kopi hitamnya dengan ekspresi tenang. Ada rasa hangat yang mengalir pelan di d**a Giana, rasa puas yang sederhana namun begitu dalam. Pagi itu terasa utuh. Tidak tergesa. Tidak diwarnai kekhawatiran akan demam, obat, atau larangan istirahat. Hanya ada mereka berdua, rumah yang sunyi, dan perasaan bahwa semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Namun di balik ketenangan itu, sebuah ide sudah sejak tadi berputar-putar di kepala Giana. Cake. Cake kesukaan Mark. Ia ingat betul, beberapa kali Mark menyebutkannya dengan nada santai, seolah itu bukan hal penting. Cake cokelat dengan lapisan lembut, tidak terlalu manis, dengan teks

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD