Rumah keluarga itu tampak hangat sore ini. Matahari mulai turun, memantulkan cahaya oranye lembut pada dinding-dinding putih rumah tersebut. Begitu mobil Mark berhenti di depan halaman, Giana menatap rumah itu dengan tatapan penuh rindu. Napasnya tercekat sesaat, dan tanpa sadar jemarinya meremas tas kecil yang ia pangku. “Mark… ini…” Giana menoleh pelan. Mark tersenyum kecil, nada suaranya dibuat santai. “Ya. Kita mampir.” Giana turun dari mobil, langkahnya gemetar campuran rindu dan gugup. Begitu pintu depan terbuka, suara tawa Diana terdengar dari dalam dan itu membuat mata Giana langsung berkaca-kaca. “Mama…” gumamnya lirih. Diana muncul dari aula depan, terkejut, lalu wajahnya berubah haru. “Giana?! Mama pikir kamu masih di tempat baru itu—” Giana langsung berlari memeluk Diana

