Mark membawa mobilnya melaju begitu kencang hingga punggung Giana membentur sandaran kursi. Gadis itu refleks memegang sabuk pengamannya lebih erat, tubuhnya sedikit terayun saat mobil membelok tajam ke jalan kecil yang bahkan tidak ia ketahui ke mana arahnya. Lampu-lampu kota Los Angeles berpendar cepat di kaca jendela, menjadi garis-garis cahaya panjang yang mengabur saat mobil itu menembus keramaian lalu menukik ke jalanan lebih sepi. “Mark, pelan sedikit!” seru Giana, napasnya memburu. “Kita mau mati berdua?!” Mark tidak menjawab. Rahangnya mengeras, matanya fokus penuh pada jalan. Ia memutar kemudi dengan cekatan, masuk ke jalan alternatif, kemudian keluar lagi ke ruas jalan lainnya. Setiap belokan yang diambilnya bukan asal, semua sudah ia hafal di kepalanya. Beberapa kali ia mel

