Arvid berdiri di tengah ruang kerjanya yang remang-remang, lampu gantung berayun pelan seolah ikut merasakan amarah yang menggelegak dari tubuh pria itu. Tumpukan dokumen yang tadi berada rapi di mejanya kini berserakan di lantai. Beberapa di antaranya bahkan sobek, tertimpa gelas bourbon yang terjatuh saat Arvid membanting meja barusan. Nafasnya memburu. Matanya merah. Genggaman tangannya mengeras hingga buku-bukunya menonjol. “Ke mana dia membawa perempuan itu?” gumam Arvid, suaranya berat, penuh kemurkaan yang menahan letupan. “Ke mana si b******n itu menghilang?!” Salah satu anak buahnya, lelaki berkemeja hitam yang sudah bekerja untuk Arvid hampir tujuh tahun, menunduk dalam-dalam. “Bos… kami sudah cek semua kemungkinan. Mark tidak ke bandara komersial mana pun. Tidak masuk jet pr

