Bab 148

758 Words

Mark baru saja selesai menggulung lengan kemeja ketika melihat Giana masih berjongkok di depan semak mawar merah itu. Perempuan itu terlihat terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri—jemarinya kotor tanah, rambutnya diikat seadanya, wajahnya serius seperti sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting. “Gi,” panggil Mark dari teras belakang, suaranya santai tapi penuh perhatian. “Hm?” Giana tidak menoleh, tangannya masih merapikan batang mawar. “Hati-hati. Duri mawarnya tajam.” “Aku tahu,” jawab Giana cepat. “Aku sudah biasa.” Mark hendak melangkah lebih dekat ketika tiba-tiba Giana meringis. Bahunya menegang, dan tangannya refleks ditarik. “Aduh—” “Giana!” Mark langsung berlari mendekat. “Kenapa? Kena duri, ya?” Giana menatap jarinya yang mulai mengeluarkan darah. “Sedikit saja ko

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD