Mark dan Giana tiba di restoran mewah yang sudah dibooking khusus untuk mereka berdua. Lampu gantung kristal berkilauan, memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan. Meja mereka berada di sudut yang tenang, menghadap jendela besar dengan pemandangan kota Jakarta yang gemerlap di malam hari. Suasana begitu hangat dan intim, sempurna untuk merayakan momen kecil tapi penuh arti: keadilan telah ditegakkan. Mark menarik kursi untuk Giana, tersenyum lembut. “Duduklah, Giana. Malam ini milik kita. Tanpa gangguan, tanpa urusan pekerjaan, tanpa masalah… hanya kita berdua,” ucapnya lembut. Giana duduk, matanya berbinar, tersenyum manis pada Mark. “Aku senang kau mengajakku ke sini… rasanya spesial,” katanya sambil menfatap sekitar, mengagumi suasana restoran. Mark mencondongkan tubuh sedikit, me

