Bab 72

1349 Words

Baru dua hari Giana ditinggalkan oleh Mark, namun rasanya sudah seperti dua bulan. Sejak pagi wajahnya kusut, rambut diikat seadanya, dan ia berkeliaran di dalam rumah sambil membawa ponsel. Dari ruang makan, ke ruang keluarga, lalu ke kamarnya lagi. Seperti macan gelisah yang kehilangan arah. Ia menekan nama Mark di kontak lagi. Tuut… tuut… Tidak diangkat. “Mark!” Giana berseru frustrasi sambil membanting tubuh ke kasur. “Kau di mana sih!” Ia mencoba menelepon lagi. Dan lagi. Dan lagi. Tetap sama. Tidak ada jawaban. Giana mengerang dan menekan pesan suara. “Mark! Kau dengar tidak! Angkat teleponku! Ini sudah hari kedua dan kau tidak memberikan kabar apa pun! Kau mau aku panik? Kau memang sengaja ya? Kalau kau sengaja, aku bisa marah beneran!” Setelah mengirimnya, ia langsung me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD