Giana berdiri di depan rumah orang tuanya sambil menarik napas panjang. Ia baru saja turun dari mobil yang mengantarnya, koper kecil berada di sebelah kakinya. Di belakangnya, Mark berdiri sambil menyilangkan tangan, wajahnya terlihat datar namun ada sedikit sorot enggan yang tak ia tutupi. “Aku benar-benar harus pergi, Gi,” kata Mark perlahan. Giana memutar tubuh menghadapnya. “Kau yakin tidak bisa membatalkan satu minggu saja?” Mark mengangkat alis. “Satu minggu? Tentu tidak bisa. Meeting internasional, pameran investasi, dan dua presentasi penting. Tidak ada satu pun yang bisa aku lewatkan.” Giana mengerucutkan bibir. “Aku tidak bilang kau harus melewatkannya, aku cuma bilang… satu minggu.” Mark tertawa lemah. “Itu artinya aku melewatkan semuanya.” Giana menatapnya lama. “Aku tida

