Mark menatap wajah Giana yang serius, matanya tertuju pada layar televisi yang menayangkan drama Korea favoritnya. Namun matanya tak lepas dari setiap gerak bibir Giana, dari alis yang sedikit berkerut, hingga garis senyum tipis yang tak sengaja muncul ketika adegan romantis berlangsung. Rasa ingin memanjakan Giana itu membuat hatinya berdebar, dan tanpa sadar, Mark mencondongkan tubuhnya mendekat, menempelkan ciuman lembut di pipi Giana berulang kali. Giana yang awalnya terkejut, menatap Mark dengan mata yang menahan marah dan malu. Ia menekan tangan ke pipinya, mencoba menahan detak jantungnya yang meningkat. “Mark, jangan!” tegasnya sambil menjauhkan wajahnya dari ciuman Mark yang terus datang. Suara Giana tegas namun lembut, seolah menahan kekhawatiran bahwa rasa manja yang ditunjukka

