Lampu-lampu kecil mulai menyala di sepanjang tepi pantai, membentuk garis cahaya hangat yang memantul di pasir basah. Suara ombak menjadi musik alami yang terus mengalun, tenang, berirama, seolah memang disiapkan khusus untuk malam itu. Mark menggandeng tangan Giana, menuntunnya menuju sebuah meja kecil yang diletakkan tidak jauh dari bibir pantai. Meja itu dihias sederhana, taplak putih bersih, lilin-lilin kecil di tengahnya, dan dua kursi kayu yang menghadap langsung ke laut. Giana berhenti melangkah, matanya membesar menatap pemandangan di depannya. “Mark…” suaranya tertahan, seperti tak tahu harus berkata apa. “Kau suka?” tanya Mark pelan, senyum lembut tersungging di wajahnya. “Ini… cantik sekali,” jawab Giana jujur. “Aku tidak menyangka.” Mark menarikkan kursi untuknya. “Dudukla

