Bab 87

2564 Words

Mark menatap Giana dengan sorot mata yang tak pernah ia gunakan pada siapa pun sebelumnya. Tatapan itu bukan lagi sekadar tatapan seorang paman kepada keponakannya, juga bukan hanya milik seorang pria yang jatuh cinta. Itu adalah tatapan seseorang yang sudah mengambil keputusan besar, keputusan yang bahkan ia tahu akan menghancurkan banyak hal. Tangannya menggenggam jemari Giana erat, seolah jika ia melepasnya sedetik saja, gadis itu akan menghilang bersama keraguan yang terus berputar di kepalanya. “Aku serius,” ucap Mark rendah, suaranya berat dan penuh tekanan. “Bagaimana kalau kita menikah.” Giana tertegun. Dunia seakan berhenti berputar. Jantungnya berdegup keras sampai telinganya berdenging. Ia menatap Mark dengan mata membulat, napasnya tercekat, pikirannya kosong lalu langsung d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD